![]() |
dahlan iskan dengan sepatu kets'nya |
DAHLAN ISKAN
Beberapa hari yang lalu saya sedang searching tentang surat kabar Jawa Pos, dan saya baru mengetahui bahwa pimpinan surat kabar itu adalah seorang Mentri yang dahulunya berprofesi sebagai wartawan. Kemudian saya searching tentang beliau, Bapak Dahlan Iskan yang sekarang menjabat sebagai Mentri BUMN. Perhatian saya langsung tertuju pada penampilan beliau yang tidak biasa. Di beberapa foto, tampak beliau mengenakan sepatu kets walaupun dengan atasan formal. Saya searching beberapa foto lagi dan ternyata semua foto beliau tampak mengenakan sepatu kets.
Kompasiana- Senang lihat Dahlan Iskan dan sepatu
sneaker-nya berjalan di halaman Istana Negara. Wartawan juga boleh dong
pake kets ke istana? Kalimat itu muncul dalam status facebook mantan
wartawati Istana, Ika Chandra Viyatakarti, beberapa waktu lalu.
Usai menjadi Direktur PLN lalu naik tahta menjadi BUMN banyak pujian
diberikan pada Dahlan Iskan. Bahkan ada yang bilang, pengangkatan
pemilik grup usaha Jawa Pos itu telah menyelamatkan muka SBY terkait
keraguan atas efektivitas reshuffle kabinet.

Pria kelahiran Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951 pun dianggap sukses
membuat program terobosan seperti Sehari Satu Juta Sambungan untuk
pemasangan pelanggan baru.
Selain itu, Dahlan sukses menggelar program tambah daya gratis untuk
menekan subsidi, efisiensi pembelian trafo hampir 50 persen. Pada Mei
2011, Dahlan juga menetapkan bulan tanpa surat perintah perjalanan dinas
(SPD). Setiap karyawan PLN yang melakukan perjalanan dinas tidak ada
penggantian uang perjalanan.
Saking sukses storinya, sosok Dahlan Iskan pun seolah tanpa cacat.
Sepatu kets yang menjadi ciri khasnya justru dianggap sebagai bagian
dari kesederhanaan, sekaligus kelebihannya. Bahkan ada ulasan yang
mendikotomikan sepatu kets Dahlan Iskan dengan sepatu kulit mahal
lambang modernisasi yang banyak didewakan. Sepatu kets Dahlan Iskan
menjadi pemenangnya.
Ulasan-ulasan berlebihan tentang Dahlan Iskan di media pun seolah
menjadi permakluman bahwa ia bisa seenaknya berjalan-jalan di Istana
Negara menggunakan sepatu kets. Padahal dalam peraturan resmi mengikuti
acara di Istana, siapapun tak boleh menggunakan celana jeans, kaos baik
berkerah apalagi tidak, termasuk sepatu kets.
Jangankan para tamu, wartawan yang biasa ngepos di Istana saja tak akan
berani mencoba-coba hadir dalam acara resmi menggunakan celana jeans
atau sepatu kets. Paspamres yang berjaga di pintu gerbang pasti akan
langsung menolaknya entah itu sudah kenal atau tidak.
Wartawan yang tak biasa dengan berpenampilan resmi seperti itu tentu
saja akan tersiksa. Saya sendiri pernah merasakan menjadi wartawan
istana pada tahun pertama terpilihnya SBY sebagai Presiden di periode
awal. Saat itu saya harus mengubah total penampilan yang serba santai
menjadi serba resmi, dan itu sangat menyiksa.
Untungnya penugasan itu hanya beberapa bulan, karena pimpinan di kantor
menarik kembali saya untuk mengelola halaman. Saya jadi kembali bebas.
Dan karenannya, saya sangat bisa memahami harapan rekan Ika Chandra
untuk bisa menggunakan sepatu kets di Istana seperti Dahlan Iskan.
Kebiasaan menggunakan sepatu kets bukan monopoli Dahlan Iskan. Banyak
orang ingin bekerja seperti itu namun tak kuasa karena belum sesukses
sang menteri BUMN. Kebiasaan menggunakan sepatu olahraga itu karenanya
bukan sebuah kelebihan seseorang dan tak bisa dijadikan contoh.
Saya lebih suka dengan kasus sepatu mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Orang sekelas Kalla secara mengejutkan ternyata selalu menggunakan
sepatu kulit buatan dalam negeri dalam kesehariannya. Kasus sepatu Jusuf
Kalla terasa lebih nasionalis, inspiratif, dan bisa menjadi teladan.
Karena itu permakluman sepatu kets Dahlan Iskan di Istana harus segera
diakhiri. Selama menjadi orang pertama di Jawa Pos, PLN atau Kementrian
BUMN, Dahlan bisa saja bebas menunjukkan eksentriknya, selalu
menggunakan sepatu kets. Tapi di Istana Negara ia adalah hanya anggota
kabinet, pembantu presiden, dan harus taat pada peraturan istana.
Dahlan harus berlapang dada dan menghormati tatakrama Istana sebagai
simbol negara dengan tak menggunakan sepatu kets seenaknya di sana. Apa
susahnya sih mengganti sebentar sepatu kets dengan sepatu resmi saat
berada di Istana? Kan bisa dilakukan sebentar di mobil, toh bisa diganti
lagi saat acara selesai? Banyak juga lo sepatu kulit yang enteng
dipakai layaknya sepatu kets.
Jika permakluman itu dibiarkan, setiap kali berada di Istana akan selalu
muncul rasa iri hati. Misal akan muncul pertanyaan, jika Dahlan Iskan
boleh kenapa saya tidak?
Saya kira kepatuhan Dahlan Iskan mengganti sepatu kets di Istana Negara
justru bisa menjadi sukses lain dalam storinya. Bahwa ia bukan pimpinan
egois, pimpinan tahu diri, patuh pada paspamres dengan mentaati tata
karma Istana Negara.
Senang lihat Dahlan Iskan menggunakan setelan jas dan sepatu kulit
serasi, tampak berwibawa saat berjalan di halaman istana negara.
Begitulah status facebook saya kelak jika Dahlan Iskan akhirnya mau
mengganti sepatu ketsnya di Istana Negara.

jadi inget jaman Gus Dur, batasan protokoler pun jadi lebih longgar. waktu Gus Dur jadi presiden, sejumlah orang dapat masuk ke Istana hanya dengan mengenakan sarung dan sandal. (kebanyakan tamu Gus Dur kyai)
ReplyDeleteTindakan Gus Dur ini mungkin sesuai dengan sikapnya untuk mendesakralisasi istana, atau bahasa gampangnya mengembalikan istana sebagai istana rakyat.
yuhuu... nice comments....
ReplyDeletehehe...
ReplyDeletegpapa, biarin saja ada menteri tampilannya pake sepatu kets, yang penting kerjanya beres, efisien, tidak menghambur2kan uang negara untuk keperluan protokoler yg g jelas.